Bukit pa’bo tondong tallasa

BUKIT PA’BO TONDONG TALLASA



tondong tallasa berada di sebelah timur wilayah pegunungan pangkep, untuk menuju kesana membutuhkan waktu kurang lebih 1-2jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor,sepanjang jalan menuju kesana mempunyai tantangan sendiri karna medan yang dilalui beberapa jalan cukup hancur karna dilalui mobil”truk 10 roda pengangkut tambang galian. setelah melewati desa bonto birao jalanannya yang dilalui uda agak baikan. sepanjang perjalanan kita disuguhkan pemandangan pegunungan dengan karakteristis kesejukannya.


Walaupun bukan hari libur berkunjug kesana tetapi kami tetap antusian untuk berkunjug ke tondong tallasa. Tujuan yang utama untuk perjalanan kali ini yaitu bukit pa’bo, Puncak Pa’bo yang berada diketinggian 600 mdpl bukit yang masih berada di wilayah tondong tallasa. Karna dapat info dari teman n juga media sosial tentang keindahan di puncak bukit pa’bo, sehingga kami antusias untuk melakukan perjalanan menuju bukit tersebut


Hari itu selepas piket penjagaan saya pun mengajak salah satu teman saya. Yang juga hobby ngetrip.tak lupa mempersiapkan tenda untuk di pake istirahat disana. 


Kami pun sampai tepat jam 11.00 wita. Lumayan cuaca juga mendukung sehingga tidak terlalu kepanasan memasang tenda. Dengan duduk di depan tenda saya pun larut dalam keindahan dan tiupan angin yang sepoi sepoi membuat ki ngerasa nyaman berada disini..Hal yg indah itu ketika kita bisa menikmati alam yg luas ini dan tak lupa untuk menjaga kelestarian lingkungannya. masyah Allah sungguh indah ciptaan  Mu.



Dengan gembirax kami pun tak lupa mengabadikan dengan foto biasalah ikut trend kekinian. Agar bisa di ceritakan keteman” batapa indahx bukit pa’ bo.jam pun menunjukkan uda jam 16.00 akhirnya kami pun bergegas menbereskan tendan dan lanjut pulang kerumah.. takutx nanti dapat malam di jalan… sekian 



Iklan

CAFE PUNCAK RAMMANG RAMMANG

CAFE PUNCAK RAMMANG RAMMANG


Maros memiliki banyak tempat wisata salah satunya rammang ramang.

Cafe puncak

Rammang-rammang terletak di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros.

Yang membuatnya unik, objek wisata satu ini berada di gugusan pegunungan kapur (karst) Maros-Pangkep, dimana masih termasuk dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung., karst Maros-Pangkep ini disebut-sebut sebagai jejeran karst terbesar kedua di dunia. Hanya kalah dari stone forest di Shilin Yi, China.

Selain itu, karst Maros-Pangkep ini juga masuk dalam World Heritage Convention UNESCO.


Tp Tujuan utama pulang kuliah yaitu cafe puncak yang berada di wilayah rammang rammang meliat postingan teman menupload foto cafe puncak kayanya menarik untuk di kunjungi. Di sana terdapat 3 cafe. Salah satunya cafe yang baru di dirikan di dekat hutan batu, untuk menikmati hamparan hutan batu alangkah baiknya tuk beristirahat sejenak di cafe tersebut.


Tak jauh dari cefe sebelumnya yang berajarak sekitaran 100 meter. Akhirnya sampe juga di parkiran cafe puncak. Untuk menambah pendapatan warga disana mereka membuka lahan parkir yang berada disekitaran cafe tersebut.

ditempat ini juga para pengunjung dapat berselfie bareng teman, sahabat, pacar atau gebetan dengan background pegunungan dan hamparan sawah-sawah yang sangat luas ditambah lagi susasanan yang sejuk membuat pengunjung betah untuk bersantai lama ditempat ini.



cafe puncak ini pun sangat menarik karena berada diatas bukit yang cukup tinggi yang dikelilingi pegunungan dan karst atau hutan batu.

adapun daftar harga makanan dan minuman dicafe ini terbilang sangat murah, berkisar dari harga Rp.7000 hingga yang termahal Rp. 20.000,- tak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk bersantai sambil menikmati pemandangan sekitarnya yang sangat membuat mata anda terkagum karena keindahan alamnya hutan batu rammang-rammang itu sendiri.


Merasa nyaman berada disini serasa tidak mau beranjak dari tempat ini tapi waktu menunjutkan jam 18.00 kami pun bergegas tuk turung kebawah tak lupa membayar copy yang pesan. Otw pulang..

PESONA PULAU CANGKE

PESONA PULAU CANGKE

Pulau cangke merupakan salah satu pulau supermode ,memiliki keindahan dan keunikan yang cukup menarik pulau ini merupakan salah satu pulau supermode yang ada disebelah barat jazirah sulawesi selatan atau tepatnya pulau cangke ini berada di kabupaten Pangkep( pangkajenne dan kepulauan)

pulau cangke ini merupakan pulau yang sangat indah dan hijau , namun sapa sangka dibalik keindahan dan hijaunya pulau ini terdapat cerita yang menharuhkan dan menginfirasi di pulau cangke ini

pulau cangke ini memiliki keindahan pasir putih dan pohon yang hijau, pulau ini juga memiliki luas yang lumayan yaitu sekitar kurang lebih 10 km persegi dan untuk mencapai dan mengunjungi pulau ini anda harus memempuh perjalanan sekitar 45 menit dari pelabuhan Maccini baji kec. labbakang dengan menggunakan perahu nelayan seperti katinting dan jolloro

dipulau ini anda akan menemukan dan melihat pemandangan yang sangat indah, seperti hamparan pasir putih yang panjang mengelilingi pulau tersebut dan pepohonan yang hijau dan asri sehingga menciptakan suasana yang eksotis dan juga alam bawah air yang jernih sehiungga memungkinkan anda untuk melekukan kegiatan snorkeling dan daiving dan melihat terumbuh karang,dan ikan hias dan biota laut lainnya.

selain itu anda juga akan melihat pemandangan yang lazim kegiatan penyu penyu yang bertelur karena pulau cangke merupakan pulau digunakan penyu untuk bertelur setiap dua bulan dalam setahun penyu penyu datang kesini tuk bertelur

dibalik indah dan hijaunya pulau cangke ini dihuni oleh sepasang suami istri yang saling setia menjaga satu sama lain beliau adalah DAENG ABU DAN MAIDAH, Keadaan pulau yang cukup terawat dengan pepohonan lebat yang hijau adalah hasil jerih payah seorang Daeng Abu. Pulau Cangke hanya dihuni oleh Daeng Abu dan Istrinya, Maidah. Selain keindahan, pulau ini juga menyimpan sebuah cerita kehidupan tentang kisah mereka berdua. Mereka telah hidup bersama selama kurang lebih 40 tahun.

Menurut cerita, Daeng Abu mengasingkan diri ke pulau Cangke karena penyakit kusta yang di deritanya. Dulu penyakit kusta dianggap sebagai sebuah kutukan. Daeng Abu berasal dari Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan, saat itu beliau berumur sekitar 20 tahunan. Disaat orang-orang tidak menerima keberadaannya, Maidah sang istri tetap setia menemaninya hingga saat ini.

Daeng Abu kini sudah renta dan tidak bisa melihat dengan jelas, begitupun dengan Maidah. Namun walaupun begitu semangatnya untuk tetap menjaga kelestarian pulau Cangke masih tetap menggebu. Daeng Abu lah yang membuat pulau Cangke dari hanya sebuah pulau kering kerontang menjadi seperti sebuah oase ditengah udara lautan yang panas. Pada saat-saat tertentu dimana waktu musim penyu bertelur tiba, beliaulah yang akan memastikan telur-telur itu menetas dan melahirkan generasi baru binatang laut yang mulai terancam ini.

Meski hidup dengan penuh keterbatasan dan terasing di sebuah pulau yang ada di pangkep, Daeng Abu dan Maidah tidak larut dalam kesedihan. Apapun yang terjadi kehidupan harus terus berlanjut dengan tetap semangat dan terus bersyukur. Mungkin bagi Daeng Abu dan Maidah, harta yang paling berharga itu adalah kasih sayang tulus diantara mereka.

Pesona bulusaraung 1353mdpl

Kabupaten pangkep memiliki cukup banyak gugusan gunung salah satunya gunung bulusaraung, Gunung Bulusaraung berada di desa Tompo Bulu kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan dan merupakan bagian dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Besar niat saya dan teman tuk  ingin menyaksikan pengibaran bendera merah putih di puncak gunung bulusaraung dan ingin melihat langsung keindahan pesona alam dari ketinggian 1353 mdpl bulusaraung.

Untuk mencapai titik awal pendakian gunung ini, kita bisa menggunakan kendaraan darat baik sepeda motor ataupun mobil. Tapi saya dan temanku hanya mengunakan motor untuk sampe kesana dengan durasi tempuh sekitar satu setengah jam dari tempat awal kita berangkat yaitu kita kumpul di tugu bambu runcing. Saya ingin merasakan pendakian dengan durasi tempuh yang relatif singkat dan tidak terlalu menguras stamina.

Sebelum memulai pendakian kami di haruskan melakuka registrasi dan biaya perkiran motor di kantor desa tompo bulu. Kami dikenakan biaya regist kebetulan kami 4 orang jadi biaya 37000.
Kami pun siap melanjutkan pendakian dimulai jam 09.00 . Yang saya tau dari informasi teman saya yang perna kesana sebelumnya untuk mencapai puncak bulsar ada 10 pos, dengan jarak antar pos yang cukup pendek. Track yang relatif terjal dan panjang terdapat di pos 3 menuju pos 4, pos 7 menuju pos 8, dan pos 9 menuju pos 10 (puncak). Sisanya terdiri dari track yang cukup landai, meski track cukup terjal masih sesekali ditemui.

Langkah demi langkah, dan kami pun tiba di pos 2, dan panas di badan dan cucuran keringat membasahi baju kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan sesekali kami istirahat si setiap sampai di pos, Dan setiap melanjutkan perjalana kami harus bergantian membawah carel yang lumayan cukup berat, lanjut giliran saya dari pos 4 sampat ke pos 7 beberapa kali dapat pendakian yang terjal Tepat pukul 10.35 menit ternyata kami sudah sampai di Pos 8 (di tandai dengan adanya menara), kami beristirahat sejenak, dan setelah itu kami melanjutkan lagi perjalanan ke Pos 9.

Kami pun sampai di pos 9. dominan pendaki biasanya bermalam dulu di lokasi camp pos 9 sebelum mendaki ke puncak keesokan paginya. Lokasi camp di pos 9 ini sangat ideal, tanah yang datar, jejeran pohon yang rapat sebagai pelindung dari angin, teduhnya pepohonan melindungi kita dari sengatan matahari di siang hari, pempersiapkan peralatan camp dan memasa tenda sebagai tempat istirahat kami dan tak lupa hammuck di gantungkan. di pos 9 ini terdapat sumber air yang berjarak sekitar 15 menit dengan jalur yang agak terjal dari lokasi camp. Lumayan Cukup jauh, makanya salah satu perlengkapan yang sebaiknya dibawa dalam pendakian Bulusaraung ini adalah jerigen air.

Setelah tenda terpasang, kebetulan teman membawa bekal nasi kuning 2 bungkus yang di belinya sebelum berangkat. Kami pun berempat makan suasana yang seperti inilah yg slalu ingin di ciptakan kekompakan dan kebersamaan.makan pun selesai saya penasaran dengan sumber air yang disini. Saya pun membawah cerigen tuk persiapan masak entar malam.
Biasanya para pendaki bermalam dulu di lokasi camp, tp tidak dengan saya, penasaran yang cukup tinggi saya pun berinisiatip melanjutkan pendakian tuk menuju pos 10 sebagai pos puncak bulusaraung dengan tak lupa mengajak mengajak salah satu teman saya. Pendakian pun dilanjutkan dan mendapati jalur yang terjal tuk sampai kepuncak. Akhirnya kami pun sampai terbayarkanlah rasa lelah ini,dengan hembusan angin yang kencang sembari melihat kebawah tuk melihat

menikmati jejeran jejeran karts terbesar ke-2 dunia di sekeliling kita. Ketinggian puncak Bulusaraung ini berada di titik 1353 mdpl. Meskipun tidak terlalu tinggi dibanding gunung lain di Sulawesi Selatan seperti, Bawakaraeng, Lompobattang atau Latimojong, namun view dari puncak gunung ini tidak kalah indahnya. Apalagi jika kondisi cuaca sedang cerah tanpa kabut. Pola-pola dari jejeran gunung yang tidak beraturan bisa dinikmati sejauh mata memandang. Suhu yang sejuk menghampiri dingin juga membuat kita tetap nyaman menikmati pemandangan sekitar

.

Setelah puas menyaksikan keindahan di atas puncak bulsar. Kami pun bergegas kembali ke pos 9 tempat camp kita karna takutnya kemalaman di jalan karna kami tidak membawah senter. Tepat jam 7 malam hawa dingin pun menyelimuti saya pun menyiapkan jaket dan slepin bed tuk di pake istirahat.

Suasana malam di camp pun begitu ramai beberapa regu tim memainkan gitar sambil menyanyikan lagu dengan teriakan. Dan beberapa para pendaki yang baru datang ada yang datangx jam 02.00.luar biasa sekali tekatnya.

Suasana pagi pun dengan penuh semangat kami bergegas tuk melakukan pendakian ke pos 10 guna ingin melihat sunrise(fajar) jam 05.30 tak lupa berdoa seblum melakukan pendakian.dan bukan cuma ingin menyaksikan sunrise yang paling utama itu menyaksikan pengibaran bendera merah putih di puncak bulsar.
Tepat jam 07.00 terdengar gemuruh lagu indonesia raya dan perlahan lahan bendera pun bergeser naik ke ujung tiang. Hiduplah indonesia raya, rasa bahagia pun menyelimutiku inilah kemerdekaan kami.

Setelah menikmati suasana yang bersahaja dengan cuaca yang begitu bersahabat. Kami pun siap melanjutkan perjalanan pulang. Karna 3 dari tim kami termaksud saya kebagian tugas dari kantor untuk mengikuti acara penurunan bendera di alun” pangkep. Perjalanan pulang yang lebih cepat satu jam dari pendakian membuat kami sampai ke pos 1 sebelum duhur. Para pendaki taklupa membawah sampahnya turung.